THE STRONG FAMILY ( Keluarga Bahagia)

“The Strong Family” by Charles R. Swindoll

BAGIAN PERTAMA

 MELETAKKAN FONDASI

Spesies yang Sudah Langka ?

Keluarga yang kokoh merupakan spesies yang langka karena hal itu merupakan hasil dari keinginan yang kuat serta keteguhan dan komitmen keluarga, yang dibangun melalui waktu yang panjang dengan hikmat dari Tuhan. Keluarga yang kokoh dan bahagia memiliki enam kualitas utama yaitu :

1)      Memiliki komitmen pada keluarga.

2)      Menghabiskan waktu bersama-sama.

3)      Memiliki komunikasi keluarga yang baik.

4)      Saling menghargai

5)      Memiliki komitmen spiritual.

6)      Mampu memecahkan masalah dalam krisis.

Empat prinsip abadi yang direncanakan Allah melalui keluarga dalam              Kej. 2:24, 25 :

1)      Perintah        : “meninggalkan ayahnya dan ibunya”

2)      Ketetapan     : “bersatu dengan isterinya”

3)      Kesatuan      : “keduanya menjadi satu daging”

4)      Keintiman    : “keduanya telanjang dan tidak merasa malu”

Ada 4 hal yang akan membuat kokoh sebuah keluarga dalam Ulangan pasal 6 :

1)      Dengarlah kebenaran secara sinambung (ayat 4)

2)      Cintailah Tuhan dengan sepenuh hati (ayat 5-6)

3)      Mengajar anak-anak dengan tekun (ayat 7-9)

4)      Takutlah kepada Tuhan (ayat 10-15).



Contoh Kepemimpinan yang Maskulin

Peranan ayah merupakan contoh kepemimpinan yang maskulin yang memberikan rasa aman dan memperkokoh keluarga. Maskulinitas pada seorang pria kini hampir tidak ditemukan. Anggapan yang salah tentang pria sejati dimunculkan dalam bidang seni, media masa, dunia mode dan film-film yang menonjolkan kekerasan, kekuatan, perkelahian, sikap arogan dan sejenisnya. Berdasarkan I Tesalonila 2:7-12, ada beberapa dasar yang dapat dipakai sebagai tipe seorang ayah yang akan dihargai isteri dan dikagumi anak-anaknya.

Memiliki kasih sayang (ayat 8a).Memberikan kehidupan yang transparan (ayat 8b).Memiliki ketekunan yang tidak egois (ayat 9).Memiliki kemurnian spiritual (ayat 9-10).Memberikan pegaruh yang positif (ayat 11-12).Mitra Pendukung yang Positif

Ibu merupakan seseorang yang memiliki pengaruh yang sangat kuat. Oleh karena itu, seorang ibu harus mengerti peran yang harus dilakukannya sesuai dengan Alkitab. Amsal 24:3-4 berhubungan dengan pembentukan, pembangunan dan peneguhan dalam rumah tangga. “Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik”. Dari ayat tersebut dapat kita mengerti bahwa rumah dibangun dengnan tiga piranti utama, yaitu hikmat, pengertian dan kepandaian. Ada 5 sumbangan berharga yang bisa dilakukan seorang ibu yaitu :

1)      Kelembutan yang transparan.

2)      Kemurnian iman.

3)      Keyakinan dalam diri.

4)      Cinta kasih yang tanpa pamrih.

5)      Kontrol diri.



Bayi Anda Memiliki Kecenderungan

Ada dua kecenderungan yang ada pada seseorang yang merupakan sifat bawaan yang diturunkan oleh orang tuanya. Ada kecenderungan yang baik dan buruk, yang semakin dapat dilihat sesuai tingkat pertumbuhan seseorang sejak ia dilahirkan. Mazmur 139:13-14 membawa kita untuk menyadari siapa kita sebenarnya, dan tempat kita dibentuk. Dalam kandungan itu, Allah membentuk dan menenun kita. Ini harus kita sadari bahwa kejadian kita atau anak kita adalah dahsyat dan ajaib. Meskipun dalam hal ini, Allah ingin menciptakan segala sesuatu yang baik dalam diri seseorang, tetapi hukum dosa yang telah ditetapkan-Nya berjalan dengan alamiah sehingga anak pun memiliki kecenderungan buruk yaitu dalam keadaan berdosa. Mazmur 51:7, mengatakan “sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku”.

Dari dua kecenderungan yang ada pada seorang anak yang dibawa sejak ia ada dalam kandungan dan dilahirkan sebagai seorang bayi, para orang tua harus mulai mengasuh dan mendidiknya sesuai dengan kebenaran firman Tuhan Amsal 22:6 mengatakan, “didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu”. “Jalan yang patut baginya” berarti bakat atau kecenderungan yang ada padanya, entah itu baik atau buruk. Dan seorang anak harus dididik oleh orang tuanya sendiri dengan melihat pada sifat-sifat, bakat dan kecenderungan anak tersebut.

BAGIAN DUA



MEMBANGUN KERANGKA KEHIDUPAN



Membentuk Kemauan dengan Kebijakan

Kasih dan disiplin merupakan dua hal yang saling berhubungan. Keseimbangan di antara kedua hal tersebut akan membentuk anak menjadi orang dewasa yang penuh percaya diri, sehat, bersikap matang dan produktif. Disiplin yang disertai dengan kebijakan dan kasih akan berjalan dengan adil dan seimbang, dalam batas tertentu serta bertujuan untuk memperkuat harga diri dan mengarah kepada kemampuan anak untuk dapat bertanggung jawab dalam hidupnya. Disiplin yang berlebihan (tanpa kebijakan dan kasih) akan membawa pada perbuatan penganiayaan yang jelas bersifat tidak adil, ekstrim dan menyiksa serta meninggalkan luka dan mengakibatkan kebencian dan permusuhan, menurunkan harga diri, menimbulkan ancaman dan gangguan emosional, memusuhi yang berwenang serta mengarah pada kerusakan dan ketidakmampuan anak untuk bertanggungjawab dalam hidupnya.

Pendisiplinan dapat dilakukan sesuai dengan prinsip yang tertulis dalam Amsal 22:15, Amsal 23:13-14, Amsal 13:24, Amsal 29:15 yaitu melalui tongkat atau hukuman fisik dan teguran atau perintah lisan. Tujuan utama dari pendisiplinan adalah :

Membentuk anak menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan memiliki kemandirian penuh dalam hidupnya.Memupuk dalam diri anak rasa menghargai diri sendiri dan orang lain secara sehat.Membangun cita-cita, harapan, kesembuhan dan kekuatan dalam diri setiap anak.



Meningkatkan Harga Diri

Meningkatkan harga diri anak merupakan langkah berikutnya dari sumbangan terbesar yang bisa kita berikan dalam hidup anak. Yang terbaik adalah dengan membantunya memupuk hubungan yang berarti dan bertahan lama dengan Allah yang hidup. Harga diri yang dimaksud adalah bagaimana seseorang melihat dan merasa tentang dirinya sendiri yaitu penilaian secara menyeluruh tentang dirinya. Harga diri bukanlah keangkuhan, melainkan peranan menghargai diri yang tenang, perasaan percaya diri. Jadi yang dimaksud dengan harga diri adalah kepercayaan diri. Jika anak memiliki harga diri yang kuat maka ia akan mampu mengasihi dan akan membentuk kreativitas, integritas dan stabilitas dirinya, bahkan membentuk inti kepribadiannya dan menentukan terhadap apa yang akan diperbuatnya dengan kemampuan dan sikapnya.

Harga diri atau kepercayaan diri seorang anak tidak ditentukan dalam pergaulannya, lingkungan sekolah, atau tempat-tempat lain tetapi di dalam keluarga. Orang tua yang mendidik anaknya dengan membiasakan memberikan kata-kat pujian dan penghargaan kepada keberhasilan atau kepandaian dan kemampuan anak akan meningkatkan harga diri anak.

Orang tua dapat memberikan bantuan untuk meningkatkan harga diri anak :

Komitmen untuk menemukan

Keluarga yang saling meningkatkan harga diri dalam keluarga memberikan komitmen untuk saling menemukan dan memahami. Kita belajar untuk berusaha mencari yang baik/yang kuat dan bermanfaat. Membangun harga diri yang kuat membutuhkan komitmen untuk menemukannya.

Kemauan untuk terlibat

Orang tua harus mau memberikan komitmen waktu dan energi untuk mewujudkan kepercayaan diri anak. Untuk mempertajam harga diri anak, keterlibatan orang tua sangat diperlukan.

Kemampuan berefleksi

Seorang anak tidak bisa sendirian mengenali dirinya sendiri dengan seutuhnya. Ia membutuhkan wawasan dan bantuan dari orang lain. Orang lain diperlukan untuk membantu merefleksikan lubuk hati yang paling dalam. Seorang anak memperoleh “refleksi” yang pertama dari orang tuanya.

Masa Remaja yang Menantang

Bagi kebanyakan orang tua, masa remaja merupakan masa yang sulit untuk mendidik anak-anak mereka. Tetapi untuk mendidik mereka, sikap keras dan kaku merupakan hal yang berbahaya. Orang tua harus bersikap luwes dan tidak bersikukuh, segala sesuatu tetap seperti semula agar anak tidak memberontak. Orang tua juga harus cukup bijak dan matang untuk memberikan ruang, lebih banyak mendengarkan daripada berkhotbah, melepaskan pengontrolan yang terlalu ketat, tetap bersikap tenang dan tegas tetapi memiliki sedikit rasa humor yang menyenangkan. Ada 4 pertanyaan yang harus diajukan kepada remaja :

Siapa saya ?

Hal ini merupakan pergumulan dengan jati diri.

Sikap apa yang akan saya pilih ?

Hal ini merupakan pergumulan dengan tanggung jawab.

Peraturan siapa yang akan saya hargai ?

Hal ini merupakan pergumulan dengan kewenangan.

Gaya hidup bagaimana yang akan saya tempuh ?

Hal ini merupakan pergumulan dengan tata cara yang sesuai.

Dalam menghadapi anak remaja, kebijakan adalah kunci yang tepat. Kebijakan menjaga situasi agar tetap masuk akal dan peka, serta membimbing kita untuk tidak memikul sama rata. Kebijakan membuat orang tua lebih sabar dan toleran serta membantu kapan saatnya berbicara atau bertindak, mendengarkan atau menegaskan, menantangnya atau merangkulnya.



Bergembira Bersama Keluarga

Membangun keluarga yang kokoh merupakan rangkaian proses sehari-hari, uji ralat, belajar sambil praktek untuk akhirnya menemukan sesuatu yang sedikit hubungannya dengan peraturan dan kaidah yang kaku, semuanya berhubungan dengan sikap dan perbuatan. Oleh karena itu orang tua harus bersikap fleksibel untuk memberikan ruang gerak kepada kebijakan. Sikap serba terburu-buru dan kaku merupakan dua musuh utama fleksibilitas yang akan menghilangkan kegembiran dalam keluarga.

Cara memelihara kegembiraan dalam keluarga :

Orang tua harus berusaha benar-benar otentik yaitu terbuka untuk mengungkapkan dirinya sendiri, jujur dan bersikap apa adanya.Orang tua harus menerapkan peraturan dan kebijakan seminimal mungkin untuk memberi ruang gerak bagi pertumbuhan anak tetapi tidak mengesampingkan batasan moral.Orang tua harus memberikan persetujuan untuk keinginan-keinginan dan permintaan anak, kecuali untuk sesuatu yang jelas tidak mungkin dikabulkan.Orang tua harus memiliki prinsip kasih karena untuk kegagalan anak dalam melakukan peraturan yang memang wajar dan manusiawi. Pengakuan dan penyesalan anak harus direspon dengan memaafkan dan penanganan yang lebi serius.

 BAGIAN TIGA

MENGHADAPI BADAI



Memperingatkan Mereka yang Tidak Terlibat

Ada sisi gelap kehidupan yang harus dihadapi sebuah keluarga. Kondisi keluarga yang berantakan merupakan fakta kehidupan yang harus dihadapi dan diselesaikan. Contoh dalam Alkitab terdapat dalam 1 Sam. 1-3 dimana keluarga Eli adalah keluarga hamba Tuhan yang melayani dalam rumah Tuhan. Tetapi kedua anaknya melakukan perjinahan dan memandang rendah korban bagi Tuhan. Sebagai seorang ayah sekaligus Imam dan Hakim, Eli tidak tegas menegur dan mendidik anaknya sehingga Tuhan pada akhirnya menghukum dia dan seluruh keluarganya.

Dari peristiwa ini dapat kita temukan 4 tanda-tanda kehancuran keluarga :

Sebagai seorang kepala keluarga, ayah terlalu sibuk sehingga mengabaikan kebutuhan keluarga.Menolak menghadapi keburukan cara hidup anak-anaknya atau tidak mengambil tindakan.Tidak mampu menanggapi peringatan orang lain dengan benar.Rasionalisasi hal yang salah, sehingga menjadi bagian dari permasalahan.

Hal yang harus dilakukan jika keluarga kita masih utuh adalah mengucap syukur dan memohon kekuatan Tuhan dan kebijakan untuk menghadapi ujian dan krisis yang pasti akan datang. Kedua adalah menaikkan doa bagi anak-anak kita sehingga Tuhan menyertai anak-anak kita dan memberinya keberhasilan spiritual semasa pertumbuhannya seperti halnya doa Hana untuk Samuel anaknya yang dibesarkan dalam situasi rumah tangga yang berantakan.



Menghadapi Keadaan yang Tidak Menyenangkan

Perumpamaan tentang anak yang hilang merupakan contoh sebuah keluarga yang menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan. Pembangkangan atau pemberontakan anak terhadap orang tua mengakibatkan kepergian anak dari rumahnya untuk mencari kebebasan dan berfoya-foya. Hal ini dapat terjadi   bahkan sudah terjadi dalam keluarga-keluarga Kristen sekarang ini. Tuhan melihat bahwa dosa pembangkangan adalah sama dengan dosa penyembahan berhala       (1 Sam. 15:22-23). Beberapa prinsip yang bermanfaat yang bisa membantu bagaimana menghadapi anak yang memberontak.:

1)      Tidak satupun anak yang membangkang boleh dibiarkan menghancurkan rumah tangga.

2)      Jika tingkat pembangkangan itu mendukung terjadinya perpisahan, kita harus lebih memilih prinsip dari pada anak.

3)      Apabila rasa penyesalan yang mendalam muncul dari anak; maka orang tua harus memberikan pengampunan dan sambutan penuh suka cita.

4)      Seorang ayah harus tegas, berani, tenang dalam meghadapi pembangkangan anak dan banyak berdoa bagi dia.

5)      Komunikasi dan mendiskusikan permasalahan bersama anak merupakan langkah yang harus ditempuh orang tua.

Menghadapi yang Tidak Terduga

Ada empat faktor utama yang harus dihadapi dalam memilah         kehidupan :

1)      Manusianya

Setiap orang yang bekerja dengan orang lain dan/atau keluarga harus siap menerima kenyataan bahwa manusia itu pada dasarnya berdosa, egois, dan tidak sempurna.

2)      Peristiwa

Peristiwa dalam kehidupan ini tidak bisa diramalkan dan kadang-kadang jauh lebih buruk daripada yang kita harapkan. Oleh karena itu kita harus hidup seperti apa adanya, bukan seperti yang kita harapkan.

3)      Keputusan

Kebanyakan dari kita membuat keputusan berdasarkan segi horisontal dan jarang berdasarkan prinsip Alkitabiah sesuai kehendak Tuhan.

4)      Hasilnya

Perbuatan yang kita lakukan akan menghasilkan dampak terhadap lingkungan sekitar kita dan konsekuensinya sangat berat. Oleh karena itu, kita harus tetap ingat kepada Tuhan yang sanggup menolong segala kelemahan kita.

Kita bisa mengambil teladan dari Ayub, seorang kepala keluarga yang soleh, terhormat, kaya raya dan hidup sukses bersama istri dan ke sepuluh anaknya. Tetapi mala petaka yang tak terduga pun terjadi dalam hidupnya. Tanpa peringatan apapun, tanpa tahu kesalahannya, ia kehilangan seluruh harta benda dan kekayaannya, lalu kehilangan kesepuluh anaknya. Dan ia pun akhirnya menderita penyakit di sekujur tubuhnya.

Dari peristiwa tersebut, kita dapat belajar mempersiapkan diri menghadapi sesuatu yang tidak kita ketahui. Salah satu hal paling berguna yang bisa dilakukan orang tua adalah saling membantu dari segi pandangan, saling mengingatkan tentang gambar keseluruhan baik pada saat diberkati maupun pada saat sedih.   Ada 4 tahap proses pemulihan yang tercermin dari reaksi Ayub :

Langkah ke 1.   Pemulihan adalah kesedihan yang manusiawi artinya batapapun sakitnya, ungkapan kesedihan kita harus dilampiaskan seluruhnya jika kita berharap terjadi pemulihan seutuhnya.

Langkah ke 2.   Pemulihan adalah perjuangan batin menghadapi teologi artinya terjadi pertentangan antara iman kepada Tuhan dan kenyataan yang tidak sesuai iman.

Langkah ke 3.   Dalam proses pemulihan adalah menerima kenyataan, artinya kita harus siap menerima apapun yang akan terjadi.

Langkah ke 4.   Adalah kebebasan dari ketidakadilan artinya kita harus menerima bahwa Tuhan pasti bertindak adil.



Memikul Beban yang Maha Berat

Beban yang maha berat dapat terjadi pada siapa saja. Dan setiap orang akan merasa sendiri dan kesepian dalam menanggung hal ini. Daud merupakan salah satu contoh yang pernah menanggung beban yang maha berat. Anaknya Absalom memberontak terhadap dia dan berperang melawan dia. Akhirnya Daud harus menangisi kematian anaknya yang tidak pernah dikehendakinya. Banyak contoh kisah yang merupakan beban yang maha berat dapat terjadi dalam keluarga kita. Tetapi kita harus memiliki keyakinan bahwa betapapun beratnya cobaan yang terjadi, kita pasti dapat menanggungnya, bahkan dapat mengatasinya. Pada saat yang demikian kita harus mengakui akan kebutuhan berikut :

–          Kita membutuhkan teman yang benar-benar jujur yang dapat memahami dan menghibur serta menguatkan.

–          Kita membutuhkan Sang Penyelamat yang bisa diandalkan yaitu Tuhan Yesus.

–          Kita mebutuhkan keyakinan yang tidak bisa digoyahkan apapun.



Mengantisipasi Keadaan yang Tidak Lazim

Tuhan memiliki cara yang mengherankan dalam kehidupan kita. Dia penuh dengan kejutan. Pada saat kita mengira sudah bisa menguasai keadaan dan menangani rutinitas, Dia memperkenalkan hal yang tidak lazim. Keluarga Nuh merupakan contoh yang relevan dengan kehidupan kita saat ini. Dimana di tengah masyarakat yang sudah rusak, masih ada seorang pria beriman yang mengasuh sebuah keluarga yang setia. Ada tiga gagasan spesifik yang dapat diterapkan di masa kini berkaitan dengan kisah Nuh :

Hal yang tidak lazim merupakan prosedur standar Allah.Tuhan masih mencari keluarga yang menjadi contoh keimanan.Melawan kecenderungan untuk memilih rasa aman dari pada kesiapsediaan.



Menerima yang Tidak Terelakkan

Ada beberapa ungkapan dalam Yesaya 53:4-6 yang sebagian besar di antara kita tidak menerapkan dalam keluarga :

–          Kesedihan kita

–          Kedukaan kita

–          Pelanggaran hukum kita

–          Ketidakadilan kita

Dari rata-rata kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri…” membawa kita pada empat kenyataan berikut :

Kita semua tidak ada yang sempurna, termasuk anak keturunan kita.Kita tidak bisa mengubah masa lampau, termasuk cara kita mendidik anak.Secara pribadi kita bertanggung jawab atas kesalahan kita, termasuk kesalahan yang dibuat tanpa disadari.Kita mempunyai harapan penyembuhan karena semua kesalahan kita ditanggung Kristus, termasuk kegagalan di rumah tangga.

Ada hal-hal negatif dan positif yang dapat menjadi pertimbangan kita untuk menuju pemulihan dan pembaharuan, bahkan sampai penyembuhan yang sempurna. Hal yang negatif yang tidak membantu kita harus kita tinggalkan dan melanjutkan proses perjalanan kita dengan hal-hal yang positif. Di sini ditawarkan tiga hal penting dalam melaksanakan proses ini :

Kita harus berjalan dengan motivasi yang benar.Kita harus bersikap sabar.Kita harus melakukannya dengan kekuatan Tuhan.



EVALUASI

Buku “The Strong Family” karya Charles R. Swindoll ini merupakan buku yang luar biasa bagi saya. Dalam menyoroti masing-masing pribadi dalam sebuah keluarga dimana baik posisi sebagai ayah atau ibu maupun anak membuat kita sadar dan mengerti apa yang seharusnya kita lakukan dan bagaimana seharusnya kita dalam sebuah keluarga yang baik. Jika buku “Cinta dan Kemesraan” mengupas tentang hubungan suami istri, membaca buku ini seakan-akan merupakan kelanjutan dari buku yang pertama. Hal ini menjadi semakin jelas saat buku ini membahas hubungan antara orang tua dan anak serta bagaimana cara mendidik anak-anak yang baik dan benar.

Meskipun buku ini sangat bergaya Amerika dalam tulisannya dan kadang-kadang sulit ditangkap maksud dalam setiap paragraf dalam hubungannya dengan paragraf lain. Namun setelah kita membaca ulang dan melihat contoh-contoh yang dikemukakan maka maksud dan tujuannya dapat segera kita ketahui. Mungkin untuk kaum awam di Indonesia, buku ini akan kurang bisa dimengerti, karena gaya penulisaannya menggunakan bahasa percakapan dan menggunakan kata-kata yang sulit. Tetapi isi tulisan ini pasti lebih bermanfaat bagi kaum awam di Indonesia jika mereka dapat memahaminya.

Hal-hal baru yang dikupas dari peristiwa-peristiwa dan pengalaman sehari-hari memiliki makna yang jelas bagi setiap pembaca. Hikmat dan pengetahuan untuk melihat sebuah pengalaman dan peristiwa-peristiwa hidup baik dalam kisah Alkitab maupun contoh sehari-hari menempatkan kita pada pemahaman yang jelas dan pemikiran yang berkembang. Contoh-contoh praktis yang menyertai setiap pokok bahasan sangat membantu kita, bahkan sangat menyentuh emosi kita sehingga dengan jelas kita tahu apa yang harus kita lakukan dalam kehidupan kita yang demikian
Sumber https://christyaministry.wordpress.com/2014/05/16/the-strong-family-keluarga-bahagia/

Comments

Popular Posts